Home / Opini / Saya Masih Belum Percaya

Saya Masih Belum Percaya

img-20170713-wa0051

TRIBRATA NEWS POLDA BANTEN – Rabu, 13 Juli 2017, berkat ridho Allah, saya baru saja memberikan orasi ilmiah di hadapan Wisuda Taruna Akpol Angkatan 48 Detasemen Hastadharma di Gedung Cendika Akademi Kepolisian, Kota Semarang. Saya tidak merasa sudah sempurna saat menyampaikan orasi ilmiah. Namun, saya bersyukur karena diberi kepercayaan berdiri di mimbar mulia memberikan orasi ilmiah.

Ada perasaan yang tidak bisa saya jelaskan saat saya menutup salam tanda orasi ilmiah telah selesai saya sampaikan. Entah perasaan apa namanya, namun di dalam dada saya ada bangga, tidak percaya, haru, dan lain sebaganya.

Sejujurnya, saya masih belum percaya diberi amanat memberikan orasi ilmiah. Saya sadar betul, kompetensi saya belum seberapa. Saya sebenarnya belum pantas berdiri di podium menyampaikan ceramah ilmiah. Saya yakin, masih banyak anggota Polri yang memiliki kapabilitas melebihi kemampuan saya. Namun kembali saya sampaikan rasa hormat dan terimakasih karena kepercayaan diberikan kepada saya.

Orasi ilmiah yang saya bawakan diberi judul “Implementasi Ilmu Kepolisian Untuk Kinerja Polri Yang Profesional, Modern, dan Terpercaya”. Kehadiran Akademi Kepolisian sebagai lembaga pendidikan pembentukan bagi perwira kepolisian merupakan bukti bahwa ilmu kepolisian menjadi fondasi dalam upaya Polri melaksanakan tugas pokok dengan langkah-langkah yang sistematis dan juga dilandasi dengan kajian akademik.

Dengan demikian, harapan agar lembaga ini menghasilkan polisi yang profesional, cerdas, bermoral, dan modern harus ditunjukkan dengan kinerja yang dapat memberikan solusi bagi terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat di negeri ini. Dengan begitu, implementasi ilmu kepolisian harus ditunjukkan dengan kinerja Polri yang berkualitas.

Dalam orasi ilmiah itu di antaranya saya menyampaikan mengenai semangat kebangsaan kepada para Taruna Akpol. Saya katakan, pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang dicetuskan para pendiri bangsa (founding fathers). Sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa dengan nuansa kedaerahan yang kental, bangsa Indonesia membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya dan karakter yang holistik sebagai bangsa. Hal itu sangat penting karena menyangkut kesamaan pemahaman, pandangan, dan gerak langkah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Terkait dengan sistem pendidikan di Akademi Kepolisian, sebagai lembaga pendidikan Polri Akademi Kepolisian dituntut untuk melahirkan perwira kepolisian yang mempunyai karakter kebangsaan yang kuat. Sebagai institusi yang saat ini dinilai sebagai salah satu penyangga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Akpol sebagai lembaga pendidikan pembentukan Polri mempunyai andil yang sangat besar.

Dalam waktu dekat, para wisudawan akan bertugas di seluruh penjuru Nusantara. Mereka akan langsung terjun bertugas bersinggungan langsung dengan masyarakat. Anggota polisi bisa bersentuhan dengan masyarakat dari latar belakang apa saja. Untuk itulah, wawasan dan semangat kebangsaan perlu dimiliki anggota Polri. Agar dalam pelaksanaan tugas senantiasa berpedoman kepada nilai keadilan dan nilai Bhineka Tunggal Ika.

Dalam kesempatan itu, saya juga menyampaikan pemikiran dan pengalaman saya saat bertugas yang berkaitan dengan implementasi ilmu kepolisian untuk kinerja Polri yang profesional, modern dan terpercaya. Menurut saya, dalam rangka mewujudkan kinerja Polri yang memenuhi harapan masyarakat, harus diawali dulu dengan pendekatan ke masyarakat yang baik(social approach) dengan tiga pendekatan, yaitu fisik, intelektual, dan emosional.

Fisik yaitu sering bertemu, intelektual yaitu sering diskusi atau sharing pemikiran, dan emosional, yaitu sering berinteraksi melalui pertemuaan-pertemuan yang sering kita sebut silaturahmi dan anjangsana.

Saya sampaikan, polisi atau kepolisian jangan menjadi “Istana Barbie” atau “menara gading”, yang hanya indah dipandang saja, namun tidak dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Polisi jangan menjadi sosok yang ditakuti namun tidak dikagumi apalagi dicintai. Polisi harus senantiasa berinovasi sebab dicintai masyarakat adalah kata kunci menuju kesuksesan

Saya ceritakan pengalaman saya membangun komunikasi dengan seluruh unsur masyarakat. Saya sampaikan, polisi harus mampu menemukan chemistry dengan masyarakat agar ada keterikatan dalam satu kesatuan dengan masyarakat. Setelah kita mampu menyatu dengan masyarakat barulah kita mulai berpikir untuk meningkatkan pelayanan.

Saya juga membagi cerita mengenai awal mula gagasan pemilihan nama untuk program inovasi. Suatu hari, ketika sedang menyusuri pelosok kampung, saya bertemu dengan kuliner kebanggaan kota Jember. Sejauh memperhatian dan merasakan kuliner itu, kreasi di kepala saya perlahan-lahan mulai meracik untuk menciptakan program inovasi yang mudah dikenal dan dihapal masyarakat Jember.

Dari sini muncul gagasan untuk memilih istilah tertentu sebagai ikon yang mudah dikenal masyarakat. Hal ini merupakan jalan pemikiran yang sering digunakan oleh kalangan pemasaran, yaitu memilih nama yang mudah dikenal atau nama yang ikonik. Akhirnya saya pilih nama “Jember Suwar-suwir” untuk memudahkan masyarakat mengingat nama program inovasi Polres Jember.

Pengalaman itu saya ceritakan untuk menginspirasi dan memotivasi Taruna Akpol agar senantiasa tanggap dengan keadaan di sekitar. Anggota polisi harus kreatif, inovatif, sekaligus peka terhadap potensi dan situasi di sekitarnya. Seperti halnya saat saya melihat proses pembuatan suwar-suwir. Kepala saya langsung berpikir kreatif membuat inovasi yang bisa menyentuh dan familiar di masyarakat. Maka lahirlah berbagai program inovasi di Polres Jember dengan nama-nama khas makanan daerah, yang menunjukkan lokalitas dengan harapan akan menjadi nama yang global.

Saya juga sampaikan raihan penghargaan saat saya menjabat sebagai Kapolres Jember. Saat itu saya diberi penghargaan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur. Penghargaan diberikan karena Polres Jember dan beberapa Polres lain di Jatim sebagai percontohan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat; baik melalui sistem IT, maupun sinergitas antar-stakeholder.

Diceritakannya raihan penghargaan bukan untuk menyombongkan diri atau pencitraan. Namun sebagai pelecut untuk meningkatkan ghirah para Taruna Akpol dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri.

Pendidikan pembentukan karakter di Akademi Kepolisian menjadi modal dalam pelaksanaan tugas. Di lapangan, para Taruna Akpol akan memperoleh pelajaran baru, baik dari para senior, dari masyarakat, maupun pembelajaran ketika melaksanakan tugas. Sama seperti yang saya alami, dan juga dialami oleh para senior, pengalaman di lapangan yang dipadukan dengan dengan pengkayaan lewat pembelajaran di kampus selama pendidikan akan menjadi kekuatan dalam memberikan pengabdian sebagai insan Bhayangkara.

Semoga sedikit pengalaman dan pemikiran yang saya sampaikan dalam orasi ilmiah itu dapat menjadi tambahan bekal nanti dalam pelaksanaan tugas. Tentu saja yang saya sampaikan masih jauh dari sempurna, yang nanti akan dilengkapi dari pengalaman ketika berdinas, serta dari bimbingan para senior.

Dalam kesempatan ini dengan tulus dan rendah hati saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Kapolri, Bapak Kepala Lemdiklat Polri, Bapak Gubernur Akademi Kepolisian, para Gubernur Akpol pada masanya, segenap Sivitas Akademika Akademi Kepolisian, para wisudawan Taruna Akpol Angkatan 48 Detasemen Hastadharana, serta semua pihak yang senantiasa mendukung dan saya dalam pelaksanaan tugas.

Penulis : Sabilul Alif
Publish : iman

About Polresta Tangerang

Check Also

whatsapp-image-2018-06-24-at-10-46-53-1

Jelang Pilkada, Kapolresta Tangerang Inisiasi Doa Bersama Lintas Agama

|TRIBRATA NEWS POLDA BANTEN, Tangerang- Beberapa hari jelang pemungutan suara Pilkada serentak 2018, Kapolresta Tangerang Kombes Pol …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *